Sabtu, 11 Juni 2011

Anjal Yang Hilang Kembalilah Pulang...

Laporan : Andre Vetronius

Kemiskinan membuat mereka menjadi anak-anak jalanan, menjalani kehidupan keras penuh resiko. Mereka putus sekolah karena didera keadaan. Akan tetapi, kemiskinan pulalah yang menyadarkan mereka mau kembali belajar, mewujudkan cita-cita agar bisa mandiri dan menjadi makhluk Allah yang berarti.

    Anak jalanan tidak perlu dirazia, karena ia bukan sumber masalah. Keberadaan anak jalanan di setiap persimpangan jalan adalah fenomena, gejala tentang gambaran nyata kondisi kemiskinan suatu kota dan gambaran kemiskinan bangsa kita. Penanganannya anak jalanan harus dilakukan secara profesional, jika tidak berpotensi lost generation.

    Lukman, seorang remaja yang di telinganya dipenuhi kerabu alias subang bahkan salah satu telinganya sudah melebar karena lubang subangnya begitu besar merupakan salah satunya. ‘’Saya memilih jalan ini karena merasa nyaman bergaul dengan mereka. Tidak ada jarak di antara kami, tidak hanya makan dengan piring yang sama tapi juga minum dengan gelas yang sama,’’ sebut Lukman.

Jumat, 10 Juni 2011

Pemko Hanya Menghimbau Walet Yang Meresahkan Warga Pekanbaru

Liputan  Andre vetronius
   
    Sekumpulan burung berwarna gelap terlihat sangat jelas berterbangan hilir-mudik kian kemari di salah satu gedung penangkaran burung walet, di Kecamatan Lima puluh. Burung ini terbangnya sangat cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil. Ia juga memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, padahal kakinya sangat kecil apalagi paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Jenis burung ini dikenal dengan sebutan burung walet.
   
    Di daerah Kota Pekanbaru burung ini sangat diminati oleh pengusaha-pengusaha di kota ini. Sampai-sampai mereka mau mengeluarkan uang untuk membangun gedung-gedung untuk penangkaran burung walet ini, tanpa memikirkan warga sekitarnya.Penangkaran burung walet di pemukiman padat penduduk mulai meresahkan masyarakat. Pasalnya, pembangunan penangkaran walet yang baru berada di sekitar pemukiman masyarakat bertambah marak.

Peseta SNMPTN Keluhkan Foto

Andre Vetronius
Liputan Pekanbaru


PEKANBARU-Belasan ribu peserta dari Riau mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi (SNMPTN) yang mulai digelar hari ini, Selasa (31/5), untuk memperebutkan kursi mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi negeri.

Rektor Universitas Riau Ashaluddin Jalil mengatakan, sebenarnya lebih 19.000 orang yang membeli pin pendaftaran untuk menjadi peserta SNMPTN. "Namun yang mendaftar sekitar 18.870 orang," ujarnya kepada Haluan Riau di Pekanbaru, Selasa (31/5).


    Dari 18.870 peserta, sebanyak 5.700 orang mendaftar untuk kelompok Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), kemudian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) 7.096 dan lmu Pengetahuan Campuran (IPC), campuran IPA dan IPS, sebanyak 5.934.
Lokasi ujian, yang digelar serentak 31 Mei dan 1 Juni, dipisah berdasarkan kelompok jurusan yang diambil peserta. Kampus Universitas Riau di Panam akan menjadi tempat penyelenggara untuk kategori  IPC. Sedangkan kampus Universitas Riau di Gobah akan menggelar ujian untuk kelompok IPS.

Udah Tau Macet... Mendingan Jalan Kaki Ke Kantor...

Laporan Andre Vetronius

    Macet lagi, macet lagi/Gara-gara si komo lewat/Pak polisi jadi bingung/Orang-orang ikut bingung/ macet lagi, macet lagi gara-gara si komo lewat jalan Sudirman katannya berkeliling kota, tanya kenapa?

    Bait-bait lagu di atas sepertinya tak ada yang tak ingat. Lagu yang diciptakan Kak Seto itu dulu menjadi lagu idola anak-anak zaman saya kecil. Lagu yang menceritakan macet di Jakarta itu sebenarnya mengandung pertanyaan besar yang sampai sekarang belum terpecahkan. Hal itupun juga terjadi di Kota Pekanbaru saat ini.

    Kenapa gara-gara si Komo lewat jalan bisa macet? Menurut saya ada beberapa hal yang membuat macet gara-gara si Komo. Si Komo pake mobil pribadi yang ukurannya jumbo (maklum tubuh si komo kan jumbo juga). Nah udah tau macet eh malah pake mobil pribadi. Belum lagi kelakuan keluarga si Komo yaitu satu orang memakai satu mobil pribadi makanya jadi macet Kota Pekanbaru ini.

    Apalagi kelakuan si Komo tidak baik selama mengendarai kendaraan pribadinya, misalnya naik motor tidak pakai helm,menyelip-nyelip tidak jelas serasa jalan milik sendiri sampai-sampai panjat troktoar  dan menerobos lampu merah. Pas lagi macet si Komo pun lewat, maka masyarakat menyalahin si Komo.  Mungkin Kota ini sudah takdirnya macet,  mau si Komo yang lewat, mau si Gubri yang lewat, mau si Mentri lewat, apalagi tidak ada yang urus tetap saja macet.

Rabu, 08 Juni 2011

Kemiskinan di Balik Gedung-gedung Megah Riau


Laporan Andre Vetronius
Menilik daerah pedalaman Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Provinsi Riau, pada awal bulan ini, menyadarkan saya bahwa tugas pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya masih sangat berat.  Sekitar 400 kepala keluarga (KK) di daerah terpencil itu hingga kini hidup dengan belenggu kemiskinan, kebodohan dan rawan penyakit. Berjarak sekitar 350 kilometer dari pusat Kota Pekanbaru yang makin penuh dengan gedung mewah, kondisi daerah pedalaman seperti berbalik 180 derajat.
 Hutan belantara berstatus Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) menjadi tempat mereka menggantungkan hidup sejak zaman nenek moyang. Di daerah tersebut terdapat 10 dusun yang menginduk pada sebuah desa bernama Rantau Langsat di Kecamatan Batang Gansal. Di tempat itulan ratusan kepala keluarga dari Suku Talang Mamak dan Melayu Tua, masyarakat adat asli Riau, bertempat tinggal seakan tak tersentuh "tangan" pemerintah.

Gepeng di Tangkap... PNS Kok Bebas?

Laporan : Andre Vetronius

PEKANBARU-Gempulan asap menyelimuti gedung Diskes Riau di pagi hari. Suasana terik matahari yang menyelimuti kota ini seakan membawa kenikmatan bagi perokok.

Tampak jelas seorang pria yang berpakaian Dinas warna coklat, lengkap dengan atributnya. Pria yang berbadan besar, mempunyai tinggi sekitar 165 cm sangat menikmati rokok Dji Sam Soe diatas motor jalan masuk Diskes Riau. pria bertubuh gempal ini seakan menghiraukan keadaan sekitarnya. Seakan dia lupa dengan keberadaan plang besi pas jalan masuk ke kantornya.

Pemko Hanya Menghimbau Walet Yang Meresahkan Warga Pekanbaru

Laporan Andre Vetronius
   
    Sekumpulan burung berwarna gelap terlihat sangat jelas berterbangan hilir-mudik kian kemari di salah satu gedung penangkaran burung walet, di Kecamatan Lima puluh. Burung ini terbangnya sangat cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil. Ia juga memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, padahal kakinya sangat kecil apalagi paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon. Jenis burung ini dikenal dengan sebutan burung walet.